PACITAN — Suasana antusias mewarnai ajang tahunan AYO PRAMUKA 2026 yang digelar oleh SD Negeri Baleharjo. Kali ini, para peserta didik dibekali keterampilan survival (bertahan hidup) yang sangat praktis dan relevan. Pelatiahn ini meliputi teknik pembuatan bivak darurat memanfaatkan mantel atau jas hujan.
Melalui pelatihan ini, para anggota Pramuka diajarkan cara memanfaatkan perlengkapan sederhana yang biasa dibawa sehari-hari menjadi tempat berlindung yang aman dari hujan, angin, maupun terik matahari di alam bebas.
Ketua Gugus Depan (Ka Gudep) Pramuka SD Negeri Baleharjo, kak Ari, mengungkapkan bahwa materi pembuatan bivak dari jas hujan ini dipilih agar siswa memiliki kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi situasi tak terduga.
"Jas hujan itu barang yang akrab dengan anak-anak, apalagi saat musim hujan. Melalui kegiatan AYO PRAMUKA 2026 ini, kami ingin membocorkan sisi lain kegunaannya. Ketika terjebak cuaca buruk di alam terbuka, jas hujan bukan cuma dipakai di badan, tapi bisa dirangkai jadi tenda darurat tempat berlindung," terang Ari di lokasi kegiatan.
Pelatihan yang berlangsung interaktif ini dipandu langsung oleh tim survival, kak Kuncoro salah satu pelatih Pramuka yang mendampingi simulasi, menjelaskan bahwa teknik ini melatih kreativitas sekaligus kejelian siswa.
"Anak-anak diajari merangkai jas hujan dengan bantuan tali lawe, pasak kayu buatan sendiri, dan memanfaatkan dua tongkat yang dijajarkan. Yang terpenting adalah memperhitungkan arah angin dan resapan air agar shelter darurat ini benar-benar aman dan nyaman ditempati," jelas Kuncoro.
Kegiatan AYO PRAMUKA 2026 ini ditutup dengan evaluasi hasil ketahanan bivak tiap regu. Keceriaan dan semangat gotong royong yang ditunjukkan para siswa menjadi bukti bahwa pendidikan kepramukaan berbasis praktik lapangan selalu efektif membentuk karakter anak yang tangguh dan mandiri.

